Sorong, Papua Barat Daya , Sebanyak 50 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan instansi pengelola kawasan konservasi mengikuti Pelatihan Taksonomi dan Preservasi Spesimen yang diselenggarakan oleh Fauna dan Flora Internasional di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong, Selasa–Rabu (23–24 Juni 2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIT ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang identifikasi dan dokumentasi biodiversitas.
Pelatihan tersebut diikuti oleh Dosen Pendidikan IPA, Lina Kumalasari, M.Pd. Mahasiswa Pendidikan IPA Nia Mangkasa yang berasal dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong. Selain itu peserta lainnya berasal dari Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Universitas Victory Sorong, BKSDA, Flora dan Fauna Indonesia (FFI) serta Yayasan Kasuari. Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kompetensi bagi para akademisi, praktisi konservasi, dan pengelola kawasan dalam memahami teknik taksonomi serta preservasi spesimen yang sesuai dengan standar ilmiah.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar taksonomi, teknik identifikasi spesimen berdasarkan karakter morfologi, penggunaan referensi ilmiah dalam proses identifikasi, serta metode preservasi spesimen untuk kebutuhan penelitian dan dokumentasi keanekaragaman hayati. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai tata cara pendokumentasian hasil identifikasi, pelabelan spesimen, dokumentasi fotografi, hingga penyusunan metadata sesuai standar dokumentasi biodiversitas.
Kegiatan tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga melalui praktik langsung di lapangan. Peserta diberikan kesempatan untuk melakukan pengamatan spesimen, identifikasi organisme, pencatatan data lapangan, serta praktik preservasi spesimen dengan pendampingan dari tim fasilitator. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan.
Pelatihan ini memiliki tiga tujuan utama, yakni meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis peserta dalam bidang taksonomi dan preservasi spesimen, meningkatkan kemampuan identifikasi spesimen berdasarkan karakter morfologi dan referensi ilmiah yang relevan, serta meningkatkan kemampuan peserta dalam mendokumentasikan hasil identifikasi dan koleksi spesimen secara sistematis dan sesuai standar dokumentasi biodiversitas.
Salah satu perwakilan lembaga penyelenggara Dr. Tri Haryoko, S.Pt. M.Si. menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya mendukung pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah Papua Barat Daya.
"Ketersediaan data biodiversitas yang akurat sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia dalam melakukan identifikasi dan dokumentasi spesimen secara tepat. Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk mendukung kegiatan penelitian maupun pengelolaan kawasan konservasi," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang peserta Ruly Fadli dari Flora dan Fauna Indonesia Papua Barat Daya mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan tersebut.
"Pelatihan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena kami tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan praktik langsung di lapangan. Materi yang diberikan sangat relevan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait keanekaragaman hayati di Papua," ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, dan pengelola kawasan dalam upaya pelestarian biodiversitas. Selain meningkatkan kapasitas peserta, kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam mendukung pengelolaan data keanekaragaman hayati yang lebih terstandar dan berkelanjutan di Papua Barat Daya.